1

Putri Jeruk

Sedari kecil aku suka menulis. Entah itu sekedar luapan emosi, iseng-iseng, atau cerita keseharian biasa. Teman yang dekat denganku pasti tau. Nulis dimana aja, dibelakang buku tulis, dikertas soal, dibagian-bagian kosong buku cetak sekolah. Pernah beli buku diary waktu SD tapi ga ditulis secara teratur. Mulai menulis diary teratur itu sejak dihadiahi diary oleh Siti Rodhiah, sahabatku di SMPN 107. Sampai sekarang masih ku simpan diary itu. Isinya cerita-cerita jaman labil. photo orange4.gif

SMP kelas 3 mulai menulis di daily journal, isinya keseharianku ditambah dengan doa semoga nilai UN ku ga cukup untuk masuk SMAN 28 tapi cukup untuk masuk SMAN 38 Jakarta. Aku punya alasan sendiri kenapa aku kekeuh mau ke SMAN 38 Jakarta. Alhamdulillah, berhasil masuk SMAN 38 Jakarta.

Daily Journal Gratisan dari Majalah Gogirl!

Aku masuk kelas X-3, dan di Buku Picu ini aku biasa menulis keseharianku. Buku Picu buku tulis biasa, aku beli di koperasi sekolah karna ga bawa buku latihan bahasa Inggris. Tapi akhirnya buku itu ga dipakai dan malah jadi buku cerita labil ala anak SMA. Masih ada juga bukunya.

Penampakan Buku Picu~

Saat SMA juga aku mulai buat blog, pertama buat di http://www.blogger.com a.k.a blogspot. Lalu aku transfer semua isinya ke wordpress supaya ga ketauan orang hahaha. Semprul ya. Waktu di blogger alamatnya http://www.putrijeruk.blogspot.com sekarang hijrah jadi http://www.putrijeruk.wordpress.com. Tapi akhirnya yang blogspot tetep dipake juga sih hehe..

Banyak yang tanya, “Kenapa Putri Jeruk?”

Aku mau alamat blog ku terdiri dari 2 kata. Tadinya juga sempet kepikiran nama-nama makanan, kayak keripikkeju atau coklatkeju tapi berasa laper dan aku ga kepikiran untuk jadi food blogger. Aku pilih nama buah, karena dulu inget nasihatnya Pak Asrul (Guru Agama Islam di SMPN 107 Jakarta). Pak Asrul pernah bilang, jangan pernah mengganti nama panggilan orang dengan binatang. Karena itu tidak baik. Semisal ngomongin temen pun, dulu aku pakai nama-nama sayuran… misal Buncis dan Jeruk. Istilah yang aku pakai untuk menyebutkan nama orang yang tidak boleh disebukan. Buncis dan Jeruk itu nama cowok yang aku taksir hahaha.

Awalnya aku coba cari buah yang populer. Dan aku rasa Jeruk dan Stroberi adalah buah yang paling populer. Makanan, minuman, obat-obatan, bahkan pasta gigi pun seringnya rasa Stroberi dan Jeruk. Kenapa akhirnya aku milih Jeruk? Karena Stoberi terlalu girly. Iya ga sih? Dan karena aku perempuan, aku tambahin kata Putri didepannya. Jadi Putri Jeruk deh.

Lalu blog mulai jarang ku update, karena lebih senang menulis langsung dibuku. Dan sibuk kuliah juga.. Semenjak kuliah seneng banget notebook dengan jilid ring yang tebal dan hard cover. Semua masih lengkap sejak awal kuliah.

My babiessss

20170417_184226

20170417_1841511.jpg

Bagian-bagian awal notebook biasa ku gambar-gambar, menuliskan kata-kata penyemangat, dan yang paling wajib adalah nama, no. handphone dan alamat. Aku agak ceroboh jadi alamat dan no handphone itu untuk jaga-jaga kalau tertinggal bisa dihubungi atau dikirim ke alamat itu 🙂

Advertisements
3

Jenis Tes

Sebelum membahas tentang jenis-jenis tes, kita harus tau apa sih tes ituuuuu.

what is test?

Set of questions or items or assignment that students have to do.

Nah singkatnya, tes adalah seperangkat alat atau tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Tes itu sendiri ada tiga jenis, yaitu:

  1. Aptitude Test

Aptitude test memiliki 3 tujuan

  • to see and to know the students’ readyness

Tes jenis ini bertujuan untuk mengetahui apakah siswa sudah siap masuk ke dalam program/kelasnya. Contohnya “enterence test” untuk menyaring mahasiswa baru.

 

  • to know someone CAPABLE to do something

Selain itu, tes ini juga bisa digunakan untuk mencari orang yang tepat dalam suatu pekerjaan. Misalnya untuk mengetes kemampuan para pekerja pabrik agar ditempatkan pada bidang yang tepat.

 

  • to clasify the student/placement test

Tes ini pun bisa digunakan untuk menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuannya. Contohnya penempatan siswa pada kursus bahasa Inggris. Calon siswa akan dihadapkan dengan tes untuk mengetahui sejauh mana kemampuannya dan akan menjadi rujukan level yang sesuai untuknya.Y

  

  1. Achievement Test : given after several times of learning

Tes ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai teori atau pembelajaran di kelas. Ada dua jenis achievement test,

  • Final achievement (in the end of class)
  • Progress achievement (mid test formatif)
  1. Proficiency Test

to see and to know the qualification of being able to do something

Proficiency test tidak diberikan setelah pembelajaran, berbeda dengan achievement test. Proficiency test hanya ingin melihat kecakapan umum saja, dan tidak mengharuskan adanya pembelajaran sebelum tes. Contohnya: TOEFL TEST.

 

Selain 3 jenis tes diatas, ada dua cara dalam penilaiana. Yang pertama secara subjektif dan yang kedua secara objektif. Penilaian secara subjektif benar dan salahnya bukan ditentukan oleh pendapat guru. Teacher involved his opinion to judge. Involved disini melibatkan ya, bukan berdasarkan. Teacher’s opinion disini untuk menentukan lengkap atau kurangnya jawaban siswa, bukan menentukan benar atau salahnya. Sedangkan penilaian secara objektif itu masalah benar dan salah.

Tes yang membutuhkan penilaian subjektif salah satunya essay. Essay membutuhkan jawaban yang cukup panjang, minimal satu paragraf, dan dalam essay dibutuhkan opini dari siswa. Jika soal essay namun isinya meminta siswa menuliskan jawaban sama persis dengan buku atau bersifat teori berarti itu bukan subjektif, tapi objektif. Kenapa? Karena ada jawaan benar atau salah.

Itulah sedikit catatan saya di mata kuliah language testing yang dibuang sayang, semoga bisa membantu 🙂

2

See you!

Dear Yona Erviani,

Nowadays, it’s difficult to find a true friend like you. I still remember the first day of pronunciation class at the lab in FITK’s 7th floor. At that time, you were a lil bit late and the seats were already full. Then, we shared a seat. That moment is not easy to forget. It is the beginning of our friendship.

Since that moment, we are always together like slippers. Like Arnold and Gerald. Like Spongebob Squarepants and Patrick Star. Some of our friends said that we are like a twin. Some other thought that we have already known each other long before college.

I sometimes think I am very lucky to get you as my friend. You are more than just a friend. You are like my sister. Maybe you are not a sister by blood, but you are my sister by heart.

I feel like there is a super thin, transparent and elastic cable that connect our minds. We are connected. We often think the same things. It’s funny when we are together and we don’t need to say any word but only look at each other. Then we smile, because we know that we think the same thing.

We often shared a lot of things. It’s almost 7 years we have been shared problems and fun together. Yona, I would like to thank you for being there for me for the ups and downs of my life.

It’s time for us to be apart. Now, you are not here anymore. You have to move to Dumai. I know that moving to Dumai is very important for your future. I only hope that you will get everything that you dream of in your new place. Please keep in touch. Don’t make the distance break our friendship.

I prefer to say see you rather than goodbye. See you, Yona! Please, stay healthy and happy~

0

we remember you, and smile

Dia tidak banyak bicara dan seorang pendengar yang baik. Tingkahnya sering konyol, tapi mampu bersikap dewasa dan bijaksana. Seseorang yang sering mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri. Kami tau ia sering kekurangan uang, namun jika ada.. uang itu tidak dihabiskannya sendiri, melainkan untuk keluarganya yang menjadi prioritas nomer satu.

Dia pintar. Tidak perlu usaha keras baginya untuk mendapatkan nilai bagus. Grammar dan structure adalah keahliannya. Ia bisa, tapi tidak bisa menjelaskan. Disitulah kelebihan dan kekurangannya. Aku sering meminta ia mengkoreksi tugas-tugas writing-ku sebelum ku kumpulkan. Biasanya akan ia poles dengan menggati beberapa diksi dan membuat tulisanku terbaca lebih apik dan formal. Pernah suatu ketika, aku tidak setor ke dia sebelum ku kumpulkan, ceritanya lagi marahan hahaha. Dan akhirnya ada typo satu kata yang membuatku harus berdiri di depan kelas. Kelas Mr. Toy, Writing 4. Aku masih ingat sekali hari itu. Setelah Mr. Toy mempersilahkan aku untuk duduk, Ia protes.. “Makanya, di cek dulu tadi..”

Kemampuan menggambar dan melukisnya pun diatas rata-rata. Dia pernah memberikan ku sepatu yang ia lukiskan putrijeruk. Selain itu ia juga pernah mengambil jaket hitamku dan mengembalikannya dengan lukisan Ringo, drummer The Beatles favoritku, dibagian depan jaketku. Itu persengkongkolannya dengan teman-teman AGC untuk ulangtahunku. Aku pernah membahasnya disini dan sini.

Dia satu-satunya yang memanggilku ‘Omen’. Katanya, Omen itu singkatan dari Odong dan Cemen. Semangmen itu juga istilah darinya, “Semangat Omen”.

Dia ga suka sayur dan senang jajan sembarangan. Ia juga ga pernah lupa pakai saos abang-abang. Kita sebagai teman sering menasehatinya dengan bilang itu makanan jorok, saos ga sehat, bahkan Afdil bilang itu sampah. Tapi ga mempan. Jawabannya seenaknya, “Abis enak, udah doain aja biar gua sehat.” Ga disangka, kegemarannya itulah yang akhirnya membuat dia sakit. Membuat waktu bersamanya berkurang dan lama-lama hilang.

Aku tau dia mulai sakit itu akhir 2012. Kita sepakat pergi ke Kebunbin Ragunan di akhir tahun, tanggal 31 Desemer 2012. Dari pagi sampai ragunan mau tutup.. Pulangnya mampir ke rumahku. Makan dan ngobrol-ngobrol seperti biasa. Ada yang janggal hari itu. Dia megeluh sakit di ketiaknya. Awalnya kita anggap biasa. Bahkan yang keluar dari mulut anak-anak hanya ledek-ledekan. “Lu sih, jarang mandi. Makannya mandi.”, “Halah, palingan bisul.” Dia cuma ketawa-ketawa aja. Dia mengeluh lagi untuk kedua kalinya, respon anak-anak masih sama. Terakhir, Ia pulang duluan karna mau ada acara tahun baruan ditempat lain, saat pamit dia mengeluh lagi. Disitu aku tanya lebih jauh. Ku pikir sakit karena tali tambang, karna siangnya kita sempat bermain-main dengan tambang. Dia bilang bukan karna itu, dan ada benjolannya. Saat itu juga aku menduga, jangan-jangan kelenjar getah bening. Karna aku pernah kena peradangan kelenjar getah bening. Pernah juga ku ceritakan disini.

Salahnya, dia paling ga suka dan takut ke dokter. Mungkin trauma atas apa yang dialami mamanya yang belum lama meninggal setelah sakit keras. Aku dan teman-teman sempat memaksanya, bahkan menyeretnya untuk ke dokter. Tapi dia terus menolak, bilang ga apa-apa. Bahkan kesal dan marah kalau kita terus memaksanya.

Akhirnya, dia bilang udah ke alternatif dan ke dokter juga. Susah kalo tanya-tanya tentang penyakitnya. Dia menutupinya. Bahkan selalu bilang, “Emangnya gua kenapa sih? Gua ga sakit kok, sehat.” Sedih rasanya mengingat hal itu lagi. Coba bayangkan, sahabatmu berkata seperti itu dengan keadaan tubuh yang semakin kurus. Kau tau itu bohong. Kau tau dia sedang berpura-pura. Ia menutupi penyakitnya, bukan cuma ke kita, sahabatnya. Tapi juga ke keluarganya. Begitu kuatnya ia menahan rasa sakit sendirian. Hanya karna tidak mau merepotkan orang lain. Ketika situasinya semakin memburuk, kita sepakat untuk ‘memaksa’ dia cerita tentang penyakitnya. Hari itu, dia memakai sweater turtle neck untuk menutupi lehernya yang terlihat bengkak. Benjolan diketiaknya sudah menyebar hingga ke leher. Akhirnya dia cerita. Meski awalnya sulit sekali membuatnya memulai bicara. Kita ingin dia tau, betapa kita peduli dan mau melihatnya sembuh. Percakapan malam itu bukan cuma lewat kata, tapi dari hati ke hati. Kita berusaha untuk menahan air mata agar tak tumpah. Tapi air mata tetap terlihat di sudut matanya.

Tiba-tiba, Senin siang (5 Oktober 2015) ada berita kalau ia sudah tidak sadar. Aku langsung kirim pesan ke teman-teman untuk jenguk ke rumahnya. Sekitar magrib aku mendapat kabar kalau ia sudah tidak ada. Malam itu aku tidak menangis. Bukan karna tidak sedih, tapi sebagian diriku masih menyangkal berita itu. Selasa pagi (6 Oktober), aku sampai di rumah duka. Situasi masih sepi. Kakiku lemah, napasku tersekat, bahkan aku tak sanggup menyingkap kain putih yang menutupi wajah almarhum. Ku ambil buku yasin untuk dibacakan disebelahnya. Disitu air mataku tumpah. Kami hanya bisa mengatar sampai ke tempat peristirahat terakhirnya. Seperti yang ia mau, tidak jauh dari makam ibunya.

Akan selalu ada cerita tentang mu. Akan selalu ada ruang khusus diantara kita yang tak tergantikan. Akan selalu terselip doa untuk mu. Selamat jalan, sahabat. Selamat jalan, Restu Esa Putra.

restu esa

Dia berhasil membuat kita tersenyum setiap kali mengingatnya. Pertama kali kumpul AGC tanpa dia, diawali doa untuknya, melihat videonya dan menceritakan kebaikannya. Hari itu kita makan, nonton dan photobox. Jadul banget ya photobox :)) Itu kurang lebih seminggu sejak kepergiannya. Anehnya, mbak-mbak photobox itu bilang kalo kita berdelapan. Saat itu kita cuma saling liat-liatan dan tersenyum. Entah mbaknya yang salah hitung, atau mungkin saat itu ada dia diantara kita :’)

IMG-20151011-WA0054

We miss you, Res!

1

First Step of Being A Teacher

Salah satu keinginanku adalah mengajar di sekolah, maunya sih di SD. Syukur-syukur bisa di Sekolah Dasar Negeri. Aku sering bilang ke guru senior, baik di sekolah tempat ku PPKT, tetangga yang berprofesi guru, dan orangtua teman yang kebetulan guru tentang keinginanku itu. Aku pun meminta saran cara melamar di sekolah. Karna aku tidak punya kerabat yang bisa ‘membawa’ku untuk mengajar di sekolah. Tidak sedikit yang mengecilkan hatiku. Beberapa diantara mereka bilang kecil kemungkinanku untuk bisa mengajar di sekolah. “Boro-boro ngajar di sekolah negeri, di swasta aja susah kalo ga ada yang ‘bawa’. Bisa bertahun-tahun baru dipanggil.” Aku pun tanya solusinya, katanya sih coba sebar CV ke banyak sekolah, nanti sewaktu-waktu dibutuhkan akan dipanggil. Semangatku bangkit lagi. Sampai ga beberapa lama, kata-katanya dilanjut dengan, “Ya, tapi kadang lamaran itu ga di simpen. Paling dicuekin. Malah ada yang langsung dibuang.”

Ada juga yang bilang di negeri udah tidak menerima guru honorer lagi. Dan lebih susah juga untukku untuk mengajadi di sekolah dasar karena aku bukan lulusan Pendidikan Guru SD. Kalau pun mau ya ke SMP atau SMA.

Aku ga punya pilihan lain selain mencoba. Jauh sebelum lulus udah berdoa dimudahkan untuk ngajar di sekolah. Setelah berkas-berkas lamaran lengkap, aku langsung menyebar lamaran ke sekolah-sekolah terdekat. Alhamdulillah, lusanya langsung ada yang menghubungi. Salah satu SMP swasta yang cukup bagus. Ya, walaupun cuma sebagai guru bantu dalam program pemantapan Ujian Nasional, aku sudah sangat bersyukur. Seminggu kemudian, datang lagi panggilan dari…….. Salah satu SD Negeri. Siapa sangka? Aku pun masih percaya ga percaya.

20151028_115318

Mulai awal tahun ini aku mengajar di sekolah. Sekolah Dasar. Negeri. Persis seperti yang aku impikan. Tak terasa sudah setahun bersama anak-anak yang luar biasa 🙂

7

commitment mismatch

Kamu baik. Kamu pintar. Kamu ga ribet. Aku suka. Walaupun aku telat menyadari hal itu.

Ada yang bilang, kita akan tau betapa berartinya seseorang setelah orang itu pergi. Dulu cuma tau teorinya. Sekarang, aku tau seperti apa rasanya. Sejak awal, kita berteman baik. Teman dalam arti sebenarnya. Ga ada bumbu-bumbu “…tapi mesra”-nya. Aku bukan perempuan yang bisa kasih perhatian ke lawan jenis selama dia bukan imamku. Aku rasa itu hal yang tidak perlu. Walaupun begitu, masih ada saja teman kita yang beranggapan kita ada apa-apa. Aku kurang paham dari mana mereka bisa simpulkan itu.

Aku pun perempuan yang tidak bisa bahasa kode. Ya, aku gak kekinian. Aku memang dibiasakan sejak kecil untuk mengutarakan apa yang aku inginkan secara langsung. Kata ibu, “Kalau ada apa-apa, langsung bilang aja. Ibu kan ga bisa baca pikiran kamu.” Jadi… maaf, kode-kode mu tidak diterima dengan baik oleh radarku.

Berkali-kali, aku bentengi hati.. meredam rasa nyaman. Puncaknya, dalam waktu yang berdekatan orang-orang terdekatku mengatakan hal yang sama. 5 orang yang berbeda, dan tidak saling mengenal. Dalam waktu yang hampir bersamaan mengatakan kamu baik, dan meyakinkanku. Saat itu, aku hanya meng-iya-kan.

Ingat tidak, ketika kamu menanyakan sahabatku? Kamu bilang, ia mirip dengan seseorang dari masa lalu mu. Saat itu aku mendukung mu. Karena ku tau kalian sama-sama baik.. Saat itu, kamu tidak sedang menguji ku, ‘kan?

“Aku sayang tapi kamu terlalu baik blablabla..” Terdengar klise ya? Aku pikir itu omong kosong, sampai akhirnya aku mengalami hal itu. Aku merasa.. belum cukup baik. Keadaan bertambah lucu ketika kamu mengungkapkan hal yang sama ke senior kita. Hei, kakak cantik itu menyampaikan semuanya padaku. Aku hanya tersenyum getir. Ternyata kita sama ya.. sama-sama terjebak dan cemen.Kita terlalu takut untuk melangkah.

Mungkin disitu keunikan jodoh. Dua orang saling merasa belum cukup baik dan keduanya terus memperbaiki diri bersama. Ah, andai saja kita punya cukup keberanian untuk melangkah..