1

See you!

Dear Yona Erviani,

Nowadays, it’s difficult to find a true friend like you. I still remember the first day of pronunciation class at the lab in FITK’s 7th floor. At that time, you were a lil bit late and the seats were already full. Then, we shared a seat. That moment is not easy to forget. It is the beginning of our friendship.

Since that moment, we are always together like slippers. Like Arnold and Gerald. Like Spongebob Squarepants and Patrick Star. Some of our friends said that we are like a twin. Some other thought that we have already known each other long before college.

I sometimes think I am very lucky to get you as my friend. You are more than just a friend. You are like my sister. Maybe you are not a sister by blood, but you are my sister by heart.

I feel like there is a super thin, transparent and elastic cable that connect our minds. We are connected. We often think the same things. It’s funny when we are together and we don’t need to say any word but only look at each other. Then we smile, because we know that we think the same thing.

We often shared a lot of things. It’s almost 7 years we have been shared problems and fun together. Yona, I would like to thank you for being there for me for the ups and downs of my life.

It’s time for us to be apart. Now, you are not here anymore. You have to move to Dumai. I know that moving to Dumai is very important for your future. I only hope that you will get everything that you dream of in your new place. Please keep in touch. Don’t make the distance break our friendship.

I prefer to say see you rather than goodbye. See you, Yona! Please, stay healthy and happy~

0

we remember you, and smile

Dia tidak banyak bicara dan seorang pendengar yang baik. Tingkahnya sering konyol, tapi mampu bersikap dewasa dan bijaksana. Seseorang yang sering mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri. Kami tau ia sering kekurangan uang, namun jika ada.. uang itu tidak dihabiskannya sendiri, melainkan untuk keluarganya yang menjadi prioritas nomer satu.

Dia pintar. Tidak perlu usaha keras baginya untuk mendapatkan nilai bagus. Grammar dan structure adalah keahliannya. Ia bisa, tapi tidak bisa menjelaskan. Disitulah kelebihan dan kekurangannya. Aku sering meminta ia mengkoreksi tugas-tugas writing-ku sebelum ku kumpulkan. Biasanya akan ia poles dengan menggati beberapa diksi dan membuat tulisanku terbaca lebih apik dan formal. Pernah suatu ketika, aku tidak setor ke dia sebelum ku kumpulkan, ceritanya lagi marahan hahaha. Dan akhirnya ada typo satu kata yang membuatku harus berdiri di depan kelas. Kelas Mr. Toy, Writing 4. Aku masih ingat sekali hari itu. Setelah Mr. Toy mempersilahkan aku untuk duduk, Ia protes.. “Makanya, di cek dulu tadi..”

Kemampuan menggambar dan melukisnya pun diatas rata-rata. Dia pernah memberikan ku sepatu yang ia lukiskan putrijeruk. Selain itu ia juga pernah mengambil jaket hitamku dan mengembalikannya dengan lukisan Ringo, drummer The Beatles favoritku, dibagian depan jaketku. Itu persengkongkolannya dengan teman-teman AGC untuk ulangtahunku. Aku pernah membahasnya disini dan sini.

Dia satu-satunya yang memanggilku ‘Omen’. Katanya, Omen itu singkatan dari Odong dan Cemen. Semangmen itu juga istilah darinya, “Semangat Omen”.

Dia ga suka sayur dan senang jajan sembarangan. Ia juga ga pernah lupa pakai saos abang-abang. Kita sebagai teman sering menasehatinya dengan bilang itu makanan jorok, saos ga sehat, bahkan Afdil bilang itu sampah. Tapi ga mempan. Jawabannya seenaknya, “Abis enak, udah doain aja biar gua sehat.” Ga disangka, kegemarannya itulah yang akhirnya membuat dia sakit. Membuat waktu bersamanya berkurang dan lama-lama hilang.

Aku tau dia mulai sakit itu akhir 2012. Kita sepakat pergi ke Kebunbin Ragunan di akhir tahun, tanggal 31 Desemer 2012. Dari pagi sampai ragunan mau tutup.. Pulangnya mampir ke rumahku. Makan dan ngobrol-ngobrol seperti biasa. Ada yang janggal hari itu. Dia megeluh sakit di ketiaknya. Awalnya kita anggap biasa. Bahkan yang keluar dari mulut anak-anak hanya ledek-ledekan. “Lu sih, jarang mandi. Makannya mandi.”, “Halah, palingan bisul.” Dia cuma ketawa-ketawa aja. Dia mengeluh lagi untuk kedua kalinya, respon anak-anak masih sama. Terakhir, Ia pulang duluan karna mau ada acara tahun baruan ditempat lain, saat pamit dia mengeluh lagi. Disitu aku tanya lebih jauh. Ku pikir sakit karena tali tambang, karna siangnya kita sempat bermain-main dengan tambang. Dia bilang bukan karna itu, dan ada benjolannya. Saat itu juga aku menduga, jangan-jangan kelenjar getah bening. Karna aku pernah kena peradangan kelenjar getah bening. Pernah juga ku ceritakan disini.

Salahnya, dia paling ga suka dan takut ke dokter. Mungkin trauma atas apa yang dialami mamanya yang belum lama meninggal setelah sakit keras. Aku dan teman-teman sempat memaksanya, bahkan menyeretnya untuk ke dokter. Tapi dia terus menolak, bilang ga apa-apa. Bahkan kesal dan marah kalau kita terus memaksanya.

Akhirnya, dia bilang udah ke alternatif dan ke dokter juga. Susah kalo tanya-tanya tentang penyakitnya. Dia menutupinya. Bahkan selalu bilang, “Emangnya gua kenapa sih? Gua ga sakit kok, sehat.” Sedih rasanya mengingat hal itu lagi. Coba bayangkan, sahabatmu berkata seperti itu dengan keadaan tubuh yang semakin kurus. Kau tau itu bohong. Kau tau dia sedang berpura-pura. Ia menutupi penyakitnya, bukan cuma ke kita, sahabatnya. Tapi juga ke keluarganya. Begitu kuatnya ia menahan rasa sakit sendirian. Hanya karna tidak mau merepotkan orang lain. Ketika situasinya semakin memburuk, kita sepakat untuk ‘memaksa’ dia cerita tentang penyakitnya. Hari itu, dia memakai sweater turtle neck untuk menutupi lehernya yang terlihat bengkak. Benjolan diketiaknya sudah menyebar hingga ke leher. Akhirnya dia cerita. Meski awalnya sulit sekali membuatnya memulai bicara. Kita ingin dia tau, betapa kita peduli dan mau melihatnya sembuh. Percakapan malam itu bukan cuma lewat kata, tapi dari hati ke hati. Kita berusaha untuk menahan air mata agar tak tumpah. Tapi air mata tetap terlihat di sudut matanya.

Tiba-tiba, Senin siang (5 Oktober 2015) ada berita kalau ia sudah tidak sadar. Aku langsung kirim pesan ke teman-teman untuk jenguk ke rumahnya. Sekitar magrib aku mendapat kabar kalau ia sudah tidak ada. Malam itu aku tidak menangis. Bukan karna tidak sedih, tapi sebagian diriku masih menyangkal berita itu. Selasa pagi (6 Oktober), aku sampai di rumah duka. Situasi masih sepi. Kakiku lemah, napasku tersekat, bahkan aku tak sanggup menyingkap kain putih yang menutupi wajah almarhum. Ku ambil buku yasin untuk dibacakan disebelahnya. Disitu air mataku tumpah. Kami hanya bisa mengatar sampai ke tempat peristirahat terakhirnya. Seperti yang ia mau, tidak jauh dari makam ibunya.

Akan selalu ada cerita tentang mu. Akan selalu ada ruang khusus diantara kita yang tak tergantikan. Akan selalu terselip doa untuk mu. Selamat jalan, sahabat. Selamat jalan, Restu Esa Putra.

restu esa

Dia berhasil membuat kita tersenyum setiap kali mengingatnya. Pertama kali kumpul AGC tanpa dia, diawali doa untuknya, melihat videonya dan menceritakan kebaikannya. Hari itu kita makan, nonton dan photobox. Jadul banget ya photobox :)) Itu kurang lebih seminggu sejak kepergiannya. Anehnya, mbak-mbak photobox itu bilang kalo kita berdelapan. Saat itu kita cuma saling liat-liatan dan tersenyum. Entah mbaknya yang salah hitung, atau mungkin saat itu ada dia diantara kita :’)

IMG-20151011-WA0054

We miss you, Res!

1

First Step of Being A Teacher

Salah satu keinginanku adalah mengajar di sekolah, maunya sih di SD. Syukur-syukur bisa di Sekolah Dasar Negeri. Aku sering bilang ke guru senior, baik di sekolah tempat ku PPKT, tetangga yang berprofesi guru, dan orangtua teman yang kebetulan guru tentang keinginanku itu. Aku pun meminta saran cara melamar di sekolah. Karna aku tidak punya kerabat yang bisa ‘membawa’ku untuk mengajar di sekolah. Tidak sedikit yang mengecilkan hatiku. Beberapa diantara mereka bilang kecil kemungkinanku untuk bisa mengajar di sekolah. “Boro-boro ngajar di sekolah negeri, di swasta aja susah kalo ga ada yang ‘bawa’. Bisa bertahun-tahun baru dipanggil.” Aku pun tanya solusinya, katanya sih coba sebar CV ke banyak sekolah, nanti sewaktu-waktu dibutuhkan akan dipanggil. Semangatku bangkit lagi. Sampai ga beberapa lama, kata-katanya dilanjut dengan, “Ya, tapi kadang lamaran itu ga di simpen. Paling dicuekin. Malah ada yang langsung dibuang.”

Ada juga yang bilang di negeri udah tidak menerima guru honorer lagi. Dan lebih susah juga untukku untuk mengajadi di sekolah dasar karena aku bukan lulusan Pendidikan Guru SD. Kalau pun mau ya ke SMP atau SMA.

Aku ga punya pilihan lain selain mencoba. Jauh sebelum lulus udah berdoa dimudahkan untuk ngajar di sekolah. Setelah berkas-berkas lamaran lengkap, aku langsung menyebar lamaran ke sekolah-sekolah terdekat. Alhamdulillah, lusanya langsung ada yang menghubungi. Salah satu SMP swasta yang cukup bagus. Ya, walaupun cuma sebagai guru bantu dalam program pemantapan Ujian Nasional, aku sudah sangat bersyukur. Seminggu kemudian, datang lagi panggilan dari…….. Salah satu SD Negeri. Siapa sangka? Aku pun masih percaya ga percaya.

20151028_115318

Mulai awal tahun ini aku mengajar di sekolah. Sekolah Dasar. Negeri. Persis seperti yang aku impikan. Tak terasa sudah setahun bersama anak-anak yang luar biasa🙂

7

commitment mismatch

Kamu baik. Kamu pintar. Kamu ga ribet. Aku suka. Walaupun aku telat menyadari hal itu.

Ada yang bilang, kita akan tau betapa berartinya seseorang setelah orang itu pergi. Dulu cuma tau teorinya. Sekarang, aku tau seperti apa rasanya. Sejak awal, kita berteman baik. Teman dalam arti sebenarnya. Ga ada bumbu-bumbu “…tapi mesra”-nya. Aku bukan perempuan yang bisa kasih perhatian ke lawan jenis selama dia bukan imamku. Aku rasa itu hal yang tidak perlu. Walaupun begitu, masih ada saja teman kita yang beranggapan kita ada apa-apa. Aku kurang paham dari mana mereka bisa simpulkan itu.

Aku pun perempuan yang tidak bisa bahasa kode. Ya, aku gak kekinian. Aku memang dibiasakan sejak kecil untuk mengutarakan apa yang aku inginkan secara langsung. Kata ibu, “Kalau ada apa-apa, langsung bilang aja. Ibu kan ga bisa baca pikiran kamu.” Jadi… maaf, kode-kode mu tidak diterima dengan baik oleh radarku.

Berkali-kali, aku bentengi hati.. meredam rasa nyaman. Puncaknya, dalam waktu yang berdekatan orang-orang terdekatku mengatakan hal yang sama. 5 orang yang berbeda, dan tidak saling mengenal. Dalam waktu yang hampir bersamaan mengatakan kamu baik, dan meyakinkanku. Saat itu, aku hanya meng-iya-kan.

Ingat tidak, ketika kamu menanyakan sahabatku? Kamu bilang, ia mirip dengan seseorang dari masa lalu mu. Saat itu aku mendukung mu. Karena ku tau kalian sama-sama baik.. Saat itu, kamu tidak sedang menguji ku, ‘kan?

“Aku sayang tapi kamu terlalu baik blablabla..” Terdengar klise ya? Aku pikir itu omong kosong, sampai akhirnya aku mengalami hal itu. Aku merasa.. belum cukup baik. Keadaan bertambah lucu ketika kamu mengungkapkan hal yang sama ke senior kita. Hei, kakak cantik itu menyampaikan semuanya padaku. Aku hanya tersenyum getir. Ternyata kita sama ya.. sama-sama terjebak dan cemen.Kita terlalu takut untuk melangkah.

Mungkin disitu keunikan jodoh. Dua orang saling merasa belum cukup baik dan keduanya terus memperbaiki diri bersama. Ah, andai saja kita punya cukup keberanian untuk melangkah..

3

Dinar

Aku sangat bersyukur, Allah mengelilingiku dengan orang-orang luar biasa dan baik. Ramadhan lalu, aku dapet kesempatan ikut #BukberAkbarPAY. Di acara itu aku banyak ketemu temen-temen relawan. Rapat cuma beberapa kali. Sisanya koordinasi via whatsapp. Ajaibnya, ketika hari-H semua bisa bersinergi dengan baik dan kompak.

Aku bertugas dibagian keamanan dan perlengkapan. Maklum, relawan cowoknya kurang hehe. Di perlengkapan aku cuma bantu-bantu redaksinya aja, sisanya nimbrung bantu-bantu divisi lain. Kalo di keamanan, bantu mengkondisikan anak-anak selama acara berlangsung. Sebelum acara juga aku menawarkan diri untuk menggiring anak-anak dari bis sampai ke masjid. Awalnya sih ga dikasih sama Kak Aji, katanya itu lumayan capek. Tapi dalam bayanganku, pasti asik gandengan sama anak-anak dari bis sampe masjid. Ga jauh juga kok. Tapi.. ekspektasi emang kadang suka bertolak belakang sama realita :p cuaca saat itu kurang bagus. Aku dan beberapa relawan lain menunggu sampai bis terakhir, yaitu bis kesembilan.

Cuacanya yang cukup dingin membuat tangganku keriput dan kicut hehe Tapi semua terbayar. Bis terakhir ternyata bis dari Al Falah. Dari dalam bis terlihat anak-anak menunjuk-nunjuk aku. Wajah mereka banyak yang familiar. Mereka anak-anak yang ku temani membaca buku cerita. Dan meski sudah lama ga berkunjung kesana, ternyata mereka masih ingat :”)

Mereka rombongan terakhir. Bisa dibilang terlambat untuk acara. Dan karna saat itu kurang koordinasi, fasilitator mereka belum standby. Karna itu, untuk sementara aku jadi fasilitatornya. Mereka semua manis-manis. Tapi, ada satu anak yang spesial. Dia aktif dan tidak bisa duduk tenang, Namanya Dinar.

Itu Dinar, yang duduk didepanku..

Itu Dinar, yang duduk didepanku..

Jam-jam pertama cukup sulit membuat Dinar tetap ditempat. Dia seorang petualang. Hampir setiap penjuru dia jelajahi. Ke depan, ke pelataran masjid, ke lantai atas masjid, ke ruang medis, ke tempat bedug. Dia juga jail, suka memukul dan meninju teman. Pas aku tanya kenapa, dia cuma bilang, “Kata mama aku, kalo ada yang nakal, di tinju aja.” Duh. photo orange-guy-05.gif

Akhirnya aku berhasil memangkunya. Dan ku peluk dia sambil ku bilang, “Dinar, kakak kunci ya.” hahaha abis bingung mencegah dia kesana-kemari. Aku paham betul itu tak akan membuatnya berhenti. Jadi, sambil ku pangku, ku pancing dia bercerita tentang kesehariannya dan sedikit ku ajari nyanyian bahasa Inggris untuk anak seusianya. Aku pun meminta dia menggambar dan menulis. Apa saja deh, asal jangan lari-larian..

cats

hasil karya Dinar🙂

Yah namanya juga anak-anak.. Dinar tetap merengek ingin keluar area masjid. Kebetulan diluar area masjid ada pasar kaget. Banyak tukang jualan dan ada permainan mandi bola. Aku masih ingat rambutnya yang berantakan keluar-keluar dari jilbabnya. Dirapikan, berantakan lagi, dirapikan lagi, berantakan lagi..

IMG-20140716-WA0017-1

Karna aku bagian perlengkapan dan keamanan, ditengah-tengah acara aku harus mondar-mandir ke ruang penyimpanan atau sekedar ketemu kakak ini atau kakak itu.. Dinar yang emang seneng gerak selalu ikut aku. Dia udah kayak buntut aku hehe

2014-07-13 16.26.30

ketika games🙂

Meski begitu, setelah waktu ashar, sikap Dinar semakin manis. Ketika waktu berbuka, aku lupa ambil ta’jil. Dinar yang sadar aku belum punya bukaan langsung memberiku sebungkus kurma dan kue bolu, “nih kak, buat kakak aja.” Ketika sholat, Dinar ga bawa mukena tapi pingin sholat pakai mukena ungu.. ada-ada aja kan.. aku bilang, “Kakak adanya mukena abu-abu. Dinar kan masih kecil.. ga usah pakai mukena juga ga apa-apa. Kan udah pake baju muslim..” Dinar manggut-manggut dan sholat disamping ku. Jujur aku agak kaget dengan sikapnya yang berubah menjadi penurut dan manis.

Setelah sholat magrib, acara selesai. Aku mulai tidak sibuk kesana-kemari dan ga bisa sama-sama Dinar. Tapi ketika waktunya pulang, aku langsung cari rombongan Dinar. Mau anter dia sampai bis. “Acaranya udah selesai ya kak? Kita ga bisa ketemu lagi kak?” Pertanyaan DInar itu membuat ku berhenti dan memeluknya. Huaaaa.. photo orange14.gif

Aku antar dia sampai bis. Biasa, dadah-dadah dulu hihihi. Ketika bisnya jalan, aku kepalkan kedua tanganku dan membuat gerakan seperti orang nangis. Kulihat Dinar melakukan hal yang sama. Dan… selang beberapa detik, Dinar nangis beneran. Bikin makin sedih ..  photo orange38.gif Meski begitu Dinar mengaku senang hari itu. Senyum mereka, keceriaan mereka itu tak ternilai..

Nah ramadhan tahun ini, Pecinta Anak Yatim berencana membuat adik-adik Laskar Langit tersenyum lagi.. Acaranya dibagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama tanggal 28 Juni di Masjid Istiqlal bersama 1000 laskar langit dan tanggal 5 Juli di RRI bersama 2000 laskar langit.

IMG-20150620-WA0011 IMG-20150616-WA0019Bagi kakak-kakak yang mau donasi, sedekah makanan, bingkisan, bantu transportasi atau beri santunan bisa hubungi aku yaaaa.. yuk sama-sama #BuatMerekaTersenyum🙂

3

wiiiiiiiiiiiiiii..suda

Di awal tahun 2014, aku ga menulis resolusi. Tapi aku tau tujuanku.

Keep calm and graduate in 2014

Wisuda udah harga mati karna aku udah ga dapet ijin main jauh-jauh sebelum wisuda. Aku melewatkan kesempatan-kesempatan cihuy. Antin ngajak kemping di pantai. Duh, itu kan salah satu mimpiku. Pas diceritain tidur diatas pasir sambil liat langit malam penuh bintang, aku pura-pura biasa aja. Pa-da-hal.. dalam hati jerit-jerit pingin huahuahuaaaa.. Aku juga gagal ikut pendakian Gunung Papandayan bareng relawan PAY.

Tapi masa-masa itu udah lewat. Akhirnya aku wisuda. Dan aku nikmati setiap prosesnya. Hihi. Daftar wisuda, gladi resiknya, antri ambil toganya.. Bikin kebaya pun turun langsung cari bahannya di tanah abang. Ribetnya pagi-pagi sebelum berangkat.. mantep dah hahaha. Sampe ga sempet sarapan dan akhirnya disuapin ibu.

Salah satu moment yang aku suka itu.. pas masuk auditorium. Ada drum band juga yang mengiringi masuknya wisudawan-wisudawati. Dan aku yang dari kecil suka banget drum band rasanya seneng banget.. secara aku yang mimpin barisan jadi seakan-akan drum band itu spesial buat ku hehehe ((seakan-akan))

Bagi yang belum wisuda, percaya deh.. wisuda itu asik! Walaupun sebenernya itu cuma seremonial aja.. bagaimana kita mengaplikasikan dan mengembangkan ilmu yang kita udah dapat itu yang lebih utama.

Yuk yang belum, semangat yes ngejar toganya!

IMG-20150623-WA0001

IMG-20141110-WA0010

IMG-20141108-WA0027