we remember you, and smile

Dia tidak banyak bicara dan seorang pendengar yang baik. Tingkahnya sering konyol, tapi mampu bersikap dewasa dan bijaksana. Seseorang yang sering mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri. Kami tau ia sering kekurangan uang, namun jika ada.. uang itu tidak dihabiskannya sendiri, melainkan untuk keluarganya yang menjadi prioritas nomer satu.

Dia pintar. Tidak perlu usaha keras baginya untuk mendapatkan nilai bagus. Grammar dan structure adalah keahliannya. Ia bisa, tapi tidak bisa menjelaskan. Disitulah kelebihan dan kekurangannya. Aku sering meminta ia mengkoreksi tugas-tugas writing-ku sebelum ku kumpulkan. Biasanya akan ia poles dengan menggati beberapa diksi dan membuat tulisanku terbaca lebih apik dan formal. Pernah suatu ketika, aku tidak setor ke dia sebelum ku kumpulkan, ceritanya lagi marahan hahaha. Dan akhirnya ada typo satu kata yang membuatku harus berdiri di depan kelas. Kelas Mr. Toy, Writing 4. Aku masih ingat sekali hari itu. Setelah Mr. Toy mempersilahkan aku untuk duduk, Ia protes.. “Makanya, di cek dulu tadi..”

Kemampuan menggambar dan melukisnya pun diatas rata-rata. Dia pernah memberikan ku sepatu yang ia lukiskan putrijeruk. Selain itu ia juga pernah mengambil jaket hitamku dan mengembalikannya dengan lukisan Ringo, drummer The Beatles favoritku, dibagian depan jaketku. Itu persengkongkolannya dengan teman-teman AGC untuk ulangtahunku. Aku pernah membahasnya disini dan sini.

Dia satu-satunya yang memanggilku ‘Omen’. Katanya, Omen itu singkatan dari Odong dan Cemen. Semangmen itu juga istilah darinya, “Semangat Omen”.

Dia ga suka sayur dan senang jajan sembarangan. Ia juga ga pernah lupa pakai saos abang-abang. Kita sebagai teman sering menasehatinya dengan bilang itu makanan jorok, saos ga sehat, bahkan Afdil bilang itu sampah. Tapi ga mempan. Jawabannya seenaknya, “Abis enak, udah doain aja biar gua sehat.” Ga disangka, kegemarannya itulah yang akhirnya membuat dia sakit. Membuat waktu bersamanya berkurang dan lama-lama hilang.

Aku tau dia mulai sakit itu akhir 2012. Kita sepakat pergi ke Kebunbin Ragunan di akhir tahun, tanggal 31 Desemer 2012. Dari pagi sampai ragunan mau tutup.. Pulangnya mampir ke rumahku. Makan dan ngobrol-ngobrol seperti biasa. Ada yang janggal hari itu. Dia megeluh sakit di ketiaknya. Awalnya kita anggap biasa. Bahkan yang keluar dari mulut anak-anak hanya ledek-ledekan. “Lu sih, jarang mandi. Makannya mandi.”, “Halah, palingan bisul.” Dia cuma ketawa-ketawa aja. Dia mengeluh lagi untuk kedua kalinya, respon anak-anak masih sama. Terakhir, Ia pulang duluan karna mau ada acara tahun baruan ditempat lain, saat pamit dia mengeluh lagi. Disitu aku tanya lebih jauh. Ku pikir sakit karena tali tambang, karna siangnya kita sempat bermain-main dengan tambang. Dia bilang bukan karna itu, dan ada benjolannya. Saat itu juga aku menduga, jangan-jangan kelenjar getah bening. Karna aku pernah kena peradangan kelenjar getah bening. Pernah juga ku ceritakan disini.

Salahnya, dia paling ga suka dan takut ke dokter. Mungkin trauma atas apa yang dialami mamanya yang belum lama meninggal setelah sakit keras. Aku dan teman-teman sempat memaksanya, bahkan menyeretnya untuk ke dokter. Tapi dia terus menolak, bilang ga apa-apa. Bahkan kesal dan marah kalau kita terus memaksanya.

Akhirnya, dia bilang udah ke alternatif dan ke dokter juga. Susah kalo tanya-tanya tentang penyakitnya. Dia menutupinya. Bahkan selalu bilang, “Emangnya gua kenapa sih? Gua ga sakit kok, sehat.” Sedih rasanya mengingat hal itu lagi. Coba bayangkan, sahabatmu berkata seperti itu dengan keadaan tubuh yang semakin kurus. Kau tau itu bohong. Kau tau dia sedang berpura-pura. Ia menutupi penyakitnya, bukan cuma ke kita, sahabatnya. Tapi juga ke keluarganya. Begitu kuatnya ia menahan rasa sakit sendirian. Hanya karna tidak mau merepotkan orang lain. Ketika situasinya semakin memburuk, kita sepakat untuk ‘memaksa’ dia cerita tentang penyakitnya. Hari itu, dia memakai sweater turtle neck untuk menutupi lehernya yang terlihat bengkak. Benjolan diketiaknya sudah menyebar hingga ke leher. Akhirnya dia cerita. Meski awalnya sulit sekali membuatnya memulai bicara. Kita ingin dia tau, betapa kita peduli dan mau melihatnya sembuh. Percakapan malam itu bukan cuma lewat kata, tapi dari hati ke hati. Kita berusaha untuk menahan air mata agar tak tumpah. Tapi air mata tetap terlihat di sudut matanya.

Tiba-tiba, Senin siang (5 Oktober 2015) ada berita kalau ia sudah tidak sadar. Aku langsung kirim pesan ke teman-teman untuk jenguk ke rumahnya. Sekitar magrib aku mendapat kabar kalau ia sudah tidak ada. Malam itu aku tidak menangis. Bukan karna tidak sedih, tapi sebagian diriku masih menyangkal berita itu. Selasa pagi (6 Oktober), aku sampai di rumah duka. Situasi masih sepi. Kakiku lemah, napasku tersekat, bahkan aku tak sanggup menyingkap kain putih yang menutupi wajah almarhum. Ku ambil buku yasin untuk dibacakan disebelahnya. Disitu air mataku tumpah. Kami hanya bisa mengatar sampai ke tempat peristirahat terakhirnya. Seperti yang ia mau, tidak jauh dari makam ibunya.

Akan selalu ada cerita tentang mu. Akan selalu ada ruang khusus diantara kita yang tak tergantikan. Akan selalu terselip doa untuk mu. Selamat jalan, sahabat. Selamat jalan, Restu Esa Putra.

restu esa

Dia berhasil membuat kita tersenyum setiap kali mengingatnya. Pertama kali kumpul AGC tanpa dia, diawali doa untuknya, melihat videonya dan menceritakan kebaikannya. Hari itu kita makan, nonton dan photobox. Jadul banget ya photobox :)) Itu kurang lebih seminggu sejak kepergiannya. Anehnya, mbak-mbak photobox itu bilang kalo kita berdelapan. Saat itu kita cuma saling liat-liatan dan tersenyum. Entah mbaknya yang salah hitung, atau mungkin saat itu ada dia diantara kita :’)

IMG-20151011-WA0054

We miss you, Res!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s