0

Looking Back: Before I Met You (Part 2)

Aku bergaul dilingkungan pertemanan yang sebagian akan menganggap ku aneh jika pacaran, sementara sebagian lainnya akan menganggapku aneh jika aku melakukan proses taaruf. Sebenarnya aku ini masih asing sama proses taaruf. Liat teman kanan-kiri taaruf ya biasa saja, liat teman kanan-kiri pacaran ya biasa saja juga. Aku sendiri ga mau pacaran karna trauma. Bagiku pacaran merugikan, khususnya bagi kaum perempuan. Pacaran itu komitmennya ga jelas. Pertanggungjawabannnya juga ga jelas. Pacaran juga bisa menghambat jodoh. Bisa aja ada yang berniat baik tapi mundur lantaran melihat kita sudah punya pacar.

Aku sendiri menikmati masa-masa sendiriku dengan memperbanyak teman dan ikut berbagai kegiatan. Berteman sama laki-laki pun biasa-biasa aja. Sesuai ajaran ibu, aku menolak dibayarin kalau pergi sama teman laki-laki. Lebih baik bayar sendiri atau share cost. Supaya ga punya beban. Pengalaman salah satu temanku, dia galau ketika dua pacarnya sama-sama mengajak serius untuk menikah. Salah satunya sudah 7 tahun dan selama itu pula ia banyak dibiayai oleh si pacar. Tapi dia lebih yakin sama pacar barunya (kalau ga mau disebut selingkuhan) yang baru beberapa bulan. Bingung karna keduanya sama-sama dimanfaatkan untuk jajan-jajan. Aku gemes sendiri karna kasian sama si cowok-cowok itu. Pengalaman lain tetanggaku juga mirip-mirip begitu. Si pacar banyak membantunya dalam masalah pekerjaan dan kuliah. Pulang larut pun sering dijemput dan diantar sampai rumah. Tapi, orangtua ga setuju dan lebih setuju sama laki-laki yang baru pdkt. Jelas si pacar ga terima karna merasa sudah berkorban banyak. See? Pacaran terlalu banyak drama.

Taaruf sendiri ga terlalu ribet. Aku suka. Liat CV nya, kalau suka lanjutin, kalau ga suka ya tinggal aja. Semudah itu. Tanpa baper. Karna tahap awal liat CV biasanya ketemu saja belum. Chat aja engga apalagi telfon-telfonan. Cocoklah untuk anak yang gampang baper kayak aku. photo orange4.gif

Tapi, aku masih ragu untuk menjalani proses taaruf dengan orang yang belum ku kenal sama sekali. Maunya sih ga pacaran tapi langsung diajak nikah sama teman yang sudah ku kenal baik. Maunya . . .

Saat kumpul sama teman-teman PAY pasti ada aja terselip pembahasan tentang taaruf. Aku cuma sekedar menyimak karna belum punya pengalaman dan belum cukup ilmu untuk ikut komentar. Tapi, Bang Arya pernah bilang, “Dari baca CV nya saja udah bisa “terasa” kok dia orangnya atau bukan.”  Ah, masa sih?

Pengalaman taaruf pertamaku lewat kak Agnes. Awalnya Kak Agnes upload foto Tim Perlengkapan. Dari situ, salah satu teman sekolahnya mengajak salah satu diantara kami untuk serius taaruf. Perantaranya Kak Agnes. Kak Agnes menghubungiku dan meminta nomor Kak Adel. Dari awal sudah dijelaskan, laki-laki ini maunya cepat, nikah insya Allah bulan Desember (Saat itu bulan Juni), dia orang Surabaya tapi kerja di Palembang. Jadi, jika bersedia akan ikut tinggal di Palembang. Disitu Kak Adel keberatan karna ingin tetap stay di Jakarta. Setelah ku sampaikan keberatan Kak Adel ke Kak Agnes, ternyata laki-laki itu awalnya ingin taaruf dengan ku, bukan Kak Adel. Tapi jadi berpindah ke Kak Adel karena menurut Kak Agnes aku terlihat belum berniat menikah. Duh. Disitu aku mikir, apa aku terlihat sesantai itu? Apa aku terlihat masih ingin main-main?

Aku memang terlihat santai. Mungkin karena ga pernah update status-status galau atau pun status kode. Terlalu santainya aku sampai-sampai tetangga rumah ada yang menyarankan agar aku di ruwat. photo orange-guy-05.gif

Jadi, ku pikir-pikir, ga ada salahnya mencoba tawaran Kak Agnes. Tinggal di Palembang ga masalah buat ku. Aku mulai buat CV, itu pun formnya minta sama Kak Agnes. Aku isi apa adanya. Tidak mahir memasak, tidak punya keahlian khusus, agak ceroboh, dan lain-lain sesuai dengan pertanyaannya. Aku ga berharap banyak. Setelah tukeran CV dan membaca CV nya, menurut Kak Agnes, dia mau lanjut dan mau bicara lewat telfon sama bapak. Tanpa komunikasi dengan ku terlebih dahulu. Langsung ke Bapak. Lain denganku.. setelah ku baca CV nya, ga ada yang salah sih, justru too perfect. Cakep, mapan, visi misi berkeluarganya mantap dan islami banget bahasanya. Tapi hatiku malah ragu. Aku mengulur-ulur ketika Kak Agnes minta nomor bapak. Akhirnya, tiba-tiba dia mundur.

Tidak lama, giliran Kak Faris menawarkan untuk taaruf dengan salah satu temannya. Setelah ku baca CV nya, lagi-lagi ga sreg.

Entah ragu karena belum siap atau ragu karna masih berharap sama seseorang.

Aku tetap santai tapi terus berdoa. “Ya Allah, jangan biarkan aku sendiri.” Ditambah lagi, sering doakan teman dan berharap doanya mantul juga ke aku.  photo orange23.gif

 

Advertisements
0

Looking Back: Before I met you (Part 1)

Sebelum ketemu kamu, aku sempat ketemu orang yang salah. Dengan kesalahan itu, aku semakin berhati-hati dalam bergaul, khususnya dengan laki-laki. Kesalahan yang aku syukuri karna membuat aku trauma pacaran.

Trauma pacaran?

Iya, pacaran satu kali dan langsung trauma. Mungkin karna aku ga paham konsep pacaran kali ya . . .  photo orange29.gif Bagiku, ga penting berkabar ke pacar, ga penting ijin ijin-ijin ke pacar, apalagi menuruti maunya pacar. Berkabar, ijin dan nurut ya ke bapak ibu, bukan ke pacar. Ditambah lagi si pacar anaknya posesif dan tempramen yang minta dikabarin tiap saat. Jadinya tiap hari dia kesel, marah-marah dan kasar. Semenjak itu juga jadi super males ladenin chat semacam “lagi apa?” “udah makan apa belom?” Ga bakal dibales sih chat kayak gitu. Bawaannya udah kesel kalau liat chat model begitu.

Aku memang anaknya baperan, ga bisa ketemu laki-laki baik, pinter, dan terlihat sayang keluarga (Ya…. tipikal family man) hati rasanya kayak pintu otomatis, langsung kebuka  photo orange2.gif  Tapi semenjak kenal si orang yang salah itu, aku semakin rajin membentengi hati, supaya ga gampang baper.

Setiap kali baper, aku usir perasaan itu. Ada yang setelahnya jujur bilang aku dingin (termasuk kamu, yang sekarang jadi suamiku), ada juga yang bilang aku ga respon-respon dan memberi sinyal “lampu hijau”  Padahal kadang akunya juga suka. Tapi udah males duluan, udah takut duluan. Takut apa? Takut menghabiskan waktu sama orang yang salah. photo orange3.gif

Kalau ada yang nekat ajak pacaran, biasanya aku tantangin. Kalau serius, datang ke rumah. Dari situ bisa dilihat kok keseriusannya. Kalau niatnya pacaran dulu, pasti langsung gugur. Biasanya kan ya…. nanti-nanti dulu lah.. jalan bareng dulu lah.. jangan ujug-ujug ke rumah.

Oh iya, trauma dan rasa sakit yang aku alami membuat aku berada di saat-saat yang sulit. Hati rasanya kosong. Sesak. Curhat ke ibu dan sahabat ga menghilangkan rasa itu. Aku sadar, saat itu yang aku butuhkan hanya Allah. Aku temui Allah di sepertiga malam. Aku tumpahkan keluh kesahku. Aku ceritakan masalahku, ketakutanku, kekhawatiranku, dan harapanku. Nangis sejadi-jadinya. photo orange38.gif Taubat, ga mau pacaran. Dan… pasrah atas apa yang terjadi kedepannya.

Setiap kali aku dekat dengan laki-laki pun, aku selalu ceritakan ke Allah. (Padahal Allah maha tahu, ga perlu kita cerita pun Allah tahu. Tapi, kalau kita diam saja.. cuma di-cukup tau-in aja sama Allah..) Aku selalu berusaha libatkan Allah.

Ya Allah, ada laki-laki. Dia baik, insya Allah sholeh, sayang sama keluarga, bertanggung jawab juga, dan ga gampang mengeluh, udah lama memang kagum sama dia. Ya Allah, kalau memang dia, dekatkan. Kalau bukan, dijauhkan dengan cara yang baik ya Allah. Biar aku ga baper.

Dilain waktu…

Ya Allah, ada laki-laki. Dia baik, pinter, insya Allah sholeh. Kalau ngobrol nyambung banget, satu pikiran, senang berkegiatan sosial juga, sering terlibat acara bareng, ringan tangan dan sering membantu ku ketika butuh bantuan, ga pernah liat dia marah atau kasar, dari tiap amanah yang dipengang sih tanggung jawab ya Allah.. Sebagai teman sih oke banget. Ya Allah, kalau memang dia, dekatkan. Kalau bukan, dijauhkan dengan cara yang baik ya Allah. Biar aku ga baper. Tapi ini udah baper banget ya Allah.. ini friendzone, commitment missmatch atau apa sih… Aku mau sih sama dia, tapi terserah Allah aja. Engkau lebih tau.

Pokoknya tiap kali baper, aku cerita ke Allah. Aneh tapi nyata… kalau memang bukan, setelah itu langsung biasa aja. Ga ada rasa sama sekali. Si laki-laki pun sepertinya begitu. Memang benar, larilah ke Allah. Tak ada masalah atau urusan yang tak terselesaikan. Apalagi urusan hati, yang jelas-jelas Dia lah yang bisa membolak-balikkan hati.

Aku bener-bener takut menghabiskan waktu dengan orang yang salah. Tapi dengan doa, Allah menjaga ku dari ketakutanku.

1

Putri Jeruk

Sedari kecil aku suka menulis. Entah itu sekedar luapan emosi, iseng-iseng, atau cerita keseharian biasa. Teman yang dekat denganku pasti tau. Nulis dimana aja, dibelakang buku tulis, dikertas soal, dibagian-bagian kosong buku cetak sekolah. Pernah beli buku diary waktu SD tapi ga ditulis secara teratur. Mulai menulis diary teratur itu sejak dihadiahi diary oleh Siti Rodhiah, sahabatku di SMPN 107. Sampai sekarang masih ku simpan diary itu. Isinya cerita-cerita jaman labil. photo orange4.gif

SMP kelas 3 mulai menulis di daily journal, isinya keseharianku ditambah dengan doa semoga nilai UN ku ga cukup untuk masuk SMAN 28 tapi cukup untuk masuk SMAN 38 Jakarta. Aku punya alasan sendiri kenapa aku kekeuh mau ke SMAN 38 Jakarta. Alhamdulillah, berhasil masuk SMAN 38 Jakarta.

Daily Journal Gratisan dari Majalah Gogirl!

Aku masuk kelas X-3, dan di Buku Picu ini aku biasa menulis keseharianku. Buku Picu buku tulis biasa, aku beli di koperasi sekolah karna ga bawa buku latihan bahasa Inggris. Tapi akhirnya buku itu ga dipakai dan malah jadi buku cerita labil ala anak SMA. Masih ada juga bukunya.

Penampakan Buku Picu~

Saat SMA juga aku mulai buat blog, pertama buat di http://www.blogger.com a.k.a blogspot. Lalu aku transfer semua isinya ke wordpress supaya ga ketauan orang hahaha. Semprul ya. Waktu di blogger alamatnya http://www.putrijeruk.blogspot.com sekarang hijrah jadi http://www.putrijeruk.wordpress.com. Tapi akhirnya yang blogspot tetep dipake juga sih hehe..

Banyak yang tanya, “Kenapa Putri Jeruk?”

Aku mau alamat blog ku terdiri dari 2 kata. Tadinya juga sempet kepikiran nama-nama makanan, kayak keripikkeju atau coklatkeju tapi berasa laper dan aku ga kepikiran untuk jadi food blogger. Aku pilih nama buah, karena dulu inget nasihatnya Pak Asrul (Guru Agama Islam di SMPN 107 Jakarta). Pak Asrul pernah bilang, jangan pernah mengganti nama panggilan orang dengan binatang. Karena itu tidak baik. Semisal ngomongin temen pun, dulu aku pakai nama-nama sayuran… misal Buncis dan Jeruk. Istilah yang aku pakai untuk menyebutkan nama orang yang tidak boleh disebukan. Buncis dan Jeruk itu nama cowok yang aku taksir hahaha.

Awalnya aku coba cari buah yang populer. Dan aku rasa Jeruk dan Stroberi adalah buah yang paling populer. Makanan, minuman, obat-obatan, bahkan pasta gigi pun seringnya rasa Stroberi dan Jeruk. Kenapa akhirnya aku milih Jeruk? Karena Stoberi terlalu girly. Iya ga sih? Dan karena aku perempuan, aku tambahin kata Putri didepannya. Jadi Putri Jeruk deh.

Lalu blog mulai jarang ku update, karena lebih senang menulis langsung dibuku. Dan sibuk kuliah juga.. Semenjak kuliah seneng banget notebook dengan jilid ring yang tebal dan hard cover. Semua masih lengkap sejak awal kuliah.

My babiessss

20170417_184226

20170417_1841511.jpg

Bagian-bagian awal notebook biasa ku gambar-gambar, menuliskan kata-kata penyemangat, dan yang paling wajib adalah nama, no. handphone dan alamat. Aku agak ceroboh jadi alamat dan no handphone itu untuk jaga-jaga kalau tertinggal bisa dihubungi atau dikirim ke alamat itu 🙂

3

Jenis Tes

Sebelum membahas tentang jenis-jenis tes, kita harus tau apa sih tes ituuuuu.

what is test?

Set of questions or items or assignment that students have to do.

Nah singkatnya, tes adalah seperangkat alat atau tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Tes itu sendiri ada tiga jenis, yaitu:

  1. Aptitude Test

Aptitude test memiliki 3 tujuan

  • to see and to know the students’ readyness

Tes jenis ini bertujuan untuk mengetahui apakah siswa sudah siap masuk ke dalam program/kelasnya. Contohnya “enterence test” untuk menyaring mahasiswa baru.

 

  • to know someone CAPABLE to do something

Selain itu, tes ini juga bisa digunakan untuk mencari orang yang tepat dalam suatu pekerjaan. Misalnya untuk mengetes kemampuan para pekerja pabrik agar ditempatkan pada bidang yang tepat.

 

  • to clasify the student/placement test

Tes ini pun bisa digunakan untuk menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuannya. Contohnya penempatan siswa pada kursus bahasa Inggris. Calon siswa akan dihadapkan dengan tes untuk mengetahui sejauh mana kemampuannya dan akan menjadi rujukan level yang sesuai untuknya.Y

  

  1. Achievement Test : given after several times of learning

Tes ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai teori atau pembelajaran di kelas. Ada dua jenis achievement test,

  • Final achievement (in the end of class)
  • Progress achievement (mid test formatif)
  1. Proficiency Test

to see and to know the qualification of being able to do something

Proficiency test tidak diberikan setelah pembelajaran, berbeda dengan achievement test. Proficiency test hanya ingin melihat kecakapan umum saja, dan tidak mengharuskan adanya pembelajaran sebelum tes. Contohnya: TOEFL TEST.

 

Selain 3 jenis tes diatas, ada dua cara dalam penilaiana. Yang pertama secara subjektif dan yang kedua secara objektif. Penilaian secara subjektif benar dan salahnya bukan ditentukan oleh pendapat guru. Teacher involved his opinion to judge. Involved disini melibatkan ya, bukan berdasarkan. Teacher’s opinion disini untuk menentukan lengkap atau kurangnya jawaban siswa, bukan menentukan benar atau salahnya. Sedangkan penilaian secara objektif itu masalah benar dan salah.

Tes yang membutuhkan penilaian subjektif salah satunya essay. Essay membutuhkan jawaban yang cukup panjang, minimal satu paragraf, dan dalam essay dibutuhkan opini dari siswa. Jika soal essay namun isinya meminta siswa menuliskan jawaban sama persis dengan buku atau bersifat teori berarti itu bukan subjektif, tapi objektif. Kenapa? Karena ada jawaan benar atau salah.

Itulah sedikit catatan saya di mata kuliah language testing yang dibuang sayang, semoga bisa membantu 🙂

2

See you!

Dear Yona Erviani,

Nowadays, it’s difficult to find a true friend like you. I still remember the first day of pronunciation class at the lab in FITK’s 7th floor. At that time, you were a lil bit late and the seats were already full. Then, we shared a seat. That moment is not easy to forget. It is the beginning of our friendship.

Since that moment, we are always together like slippers. Like Arnold and Gerald. Like Spongebob Squarepants and Patrick Star. Some of our friends said that we are like a twin. Some other thought that we have already known each other long before college.

I sometimes think I am very lucky to get you as my friend. You are more than just a friend. You are like my sister. Maybe you are not a sister by blood, but you are my sister by heart.

I feel like there is a super thin, transparent and elastic cable that connect our minds. We are connected. We often think the same things. It’s funny when we are together and we don’t need to say any word but only look at each other. Then we smile, because we know that we think the same thing.

We often shared a lot of things. It’s almost 7 years we have been shared problems and fun together. Yona, I would like to thank you for being there for me for the ups and downs of my life.

It’s time for us to be apart. Now, you are not here anymore. You have to move to Dumai. I know that moving to Dumai is very important for your future. I only hope that you will get everything that you dream of in your new place. Please keep in touch. Don’t make the distance break our friendship.

I prefer to say see you rather than goodbye. See you, Yona! Please, stay healthy and happy~

0

we remember you, and smile

Dia tidak banyak bicara dan seorang pendengar yang baik. Tingkahnya sering konyol, tapi mampu bersikap dewasa dan bijaksana. Seseorang yang sering mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri. Kami tau ia sering kekurangan uang, namun jika ada.. uang itu tidak dihabiskannya sendiri, melainkan untuk keluarganya yang menjadi prioritas nomer satu.

Dia pintar. Tidak perlu usaha keras baginya untuk mendapatkan nilai bagus. Grammar dan structure adalah keahliannya. Ia bisa, tapi tidak bisa menjelaskan. Disitulah kelebihan dan kekurangannya. Aku sering meminta ia mengkoreksi tugas-tugas writing-ku sebelum ku kumpulkan. Biasanya akan ia poles dengan menggati beberapa diksi dan membuat tulisanku terbaca lebih apik dan formal. Pernah suatu ketika, aku tidak setor ke dia sebelum ku kumpulkan, ceritanya lagi marahan hahaha. Dan akhirnya ada typo satu kata yang membuatku harus berdiri di depan kelas. Kelas Mr. Toy, Writing 4. Aku masih ingat sekali hari itu. Setelah Mr. Toy mempersilahkan aku untuk duduk, Ia protes.. “Makanya, di cek dulu tadi..”

Kemampuan menggambar dan melukisnya pun diatas rata-rata. Dia pernah memberikan ku sepatu yang ia lukiskan putrijeruk. Selain itu ia juga pernah mengambil jaket hitamku dan mengembalikannya dengan lukisan Ringo, drummer The Beatles favoritku, dibagian depan jaketku. Itu persengkongkolannya dengan teman-teman AGC untuk ulangtahunku. Aku pernah membahasnya disini dan sini.

Dia satu-satunya yang memanggilku ‘Omen’. Katanya, Omen itu singkatan dari Odong dan Cemen. Semangmen itu juga istilah darinya, “Semangat Omen”.

Dia ga suka sayur dan senang jajan sembarangan. Ia juga ga pernah lupa pakai saos abang-abang. Kita sebagai teman sering menasehatinya dengan bilang itu makanan jorok, saos ga sehat, bahkan Afdil bilang itu sampah. Tapi ga mempan. Jawabannya seenaknya, “Abis enak, udah doain aja biar gua sehat.” Ga disangka, kegemarannya itulah yang akhirnya membuat dia sakit. Membuat waktu bersamanya berkurang dan lama-lama hilang.

Aku tau dia mulai sakit itu akhir 2012. Kita sepakat pergi ke Kebunbin Ragunan di akhir tahun, tanggal 31 Desemer 2012. Dari pagi sampai ragunan mau tutup.. Pulangnya mampir ke rumahku. Makan dan ngobrol-ngobrol seperti biasa. Ada yang janggal hari itu. Dia megeluh sakit di ketiaknya. Awalnya kita anggap biasa. Bahkan yang keluar dari mulut anak-anak hanya ledek-ledekan. “Lu sih, jarang mandi. Makannya mandi.”, “Halah, palingan bisul.” Dia cuma ketawa-ketawa aja. Dia mengeluh lagi untuk kedua kalinya, respon anak-anak masih sama. Terakhir, Ia pulang duluan karna mau ada acara tahun baruan ditempat lain, saat pamit dia mengeluh lagi. Disitu aku tanya lebih jauh. Ku pikir sakit karena tali tambang, karna siangnya kita sempat bermain-main dengan tambang. Dia bilang bukan karna itu, dan ada benjolannya. Saat itu juga aku menduga, jangan-jangan kelenjar getah bening. Karna aku pernah kena peradangan kelenjar getah bening. Pernah juga ku ceritakan disini.

Salahnya, dia paling ga suka dan takut ke dokter. Mungkin trauma atas apa yang dialami mamanya yang belum lama meninggal setelah sakit keras. Aku dan teman-teman sempat memaksanya, bahkan menyeretnya untuk ke dokter. Tapi dia terus menolak, bilang ga apa-apa. Bahkan kesal dan marah kalau kita terus memaksanya.

Akhirnya, dia bilang udah ke alternatif dan ke dokter juga. Susah kalo tanya-tanya tentang penyakitnya. Dia menutupinya. Bahkan selalu bilang, “Emangnya gua kenapa sih? Gua ga sakit kok, sehat.” Sedih rasanya mengingat hal itu lagi. Coba bayangkan, sahabatmu berkata seperti itu dengan keadaan tubuh yang semakin kurus. Kau tau itu bohong. Kau tau dia sedang berpura-pura. Ia menutupi penyakitnya, bukan cuma ke kita, sahabatnya. Tapi juga ke keluarganya. Begitu kuatnya ia menahan rasa sakit sendirian. Hanya karna tidak mau merepotkan orang lain. Ketika situasinya semakin memburuk, kita sepakat untuk ‘memaksa’ dia cerita tentang penyakitnya. Hari itu, dia memakai sweater turtle neck untuk menutupi lehernya yang terlihat bengkak. Benjolan diketiaknya sudah menyebar hingga ke leher. Akhirnya dia cerita. Meski awalnya sulit sekali membuatnya memulai bicara. Kita ingin dia tau, betapa kita peduli dan mau melihatnya sembuh. Percakapan malam itu bukan cuma lewat kata, tapi dari hati ke hati. Kita berusaha untuk menahan air mata agar tak tumpah. Tapi air mata tetap terlihat di sudut matanya.

Tiba-tiba, Senin siang (5 Oktober 2015) ada berita kalau ia sudah tidak sadar. Aku langsung kirim pesan ke teman-teman untuk jenguk ke rumahnya. Sekitar magrib aku mendapat kabar kalau ia sudah tidak ada. Malam itu aku tidak menangis. Bukan karna tidak sedih, tapi sebagian diriku masih menyangkal berita itu. Selasa pagi (6 Oktober), aku sampai di rumah duka. Situasi masih sepi. Kakiku lemah, napasku tersekat, bahkan aku tak sanggup menyingkap kain putih yang menutupi wajah almarhum. Ku ambil buku yasin untuk dibacakan disebelahnya. Disitu air mataku tumpah. Kami hanya bisa mengatar sampai ke tempat peristirahat terakhirnya. Seperti yang ia mau, tidak jauh dari makam ibunya.

Akan selalu ada cerita tentang mu. Akan selalu ada ruang khusus diantara kita yang tak tergantikan. Akan selalu terselip doa untuk mu. Selamat jalan, sahabat. Selamat jalan, Restu Esa Putra.

restu esa

Dia berhasil membuat kita tersenyum setiap kali mengingatnya. Pertama kali kumpul AGC tanpa dia, diawali doa untuknya, melihat videonya dan menceritakan kebaikannya. Hari itu kita makan, nonton dan photobox. Jadul banget ya photobox :)) Itu kurang lebih seminggu sejak kepergiannya. Anehnya, mbak-mbak photobox itu bilang kalo kita berdelapan. Saat itu kita cuma saling liat-liatan dan tersenyum. Entah mbaknya yang salah hitung, atau mungkin saat itu ada dia diantara kita :’)

IMG-20151011-WA0054

We miss you, Res!